1. Muhammad Ibnu Fairuz
Menjadi musuh karena argumennya bahwa kesyirikan itu tidak mengkafirkan pelakunya, walaupun pelakunya sendiri yang malas belajar. Sebagian ulama berpendapat, Kasyfu Syubhat itu ditulis sebagai bantahan atas argumen2nya Muhammad ibnu Fairuz ini.
2. Dawud bin Jirjis
Menjadi musuh ulama najd, dengan argumennya bahwa "tidak mau belajar" itu jurus kebal dari segala jenis kekufuran, termasuk kesyirikan. Jurus utamanya dia adalah dengan menggunakan perkataan2 ibnu Taymiyyah. Aba Buthayn pernah bicara tentang penukilannya ini, "menempatkan perkataan bukan pada tempatnya".
3. Utsman bin Manshur
Hampir-hampir mirip. Dia tidak setuju ubbadul qubur itu di-takfir dan diperangi, karena mereka itu rata-rata adalah orang tidak belajar sehingga belum mengerti hakikat tauhid.
Maka argumen2 inilah, yang menjadikan Utsman bin Manshur sebagai musuh.
Nah, kamu jangan jadi ibnu Fairuz ya. Walaupun ibnu Fairuz itu adalah pengajar Shahih Bukhari, bahkan mampu mengajarkannya tanpa kitab (hafal luar dalem), tapi kalau jadi pembela musyrikin, buat apa?
Jangan pula jadi ibnu Jirjis yang jago menukil-nukil kalam ibnu Taymiyyah untuk memuslimkan pelaku kesyirikan yang tidak mau belajar... (nukilannya betul, tapi salah konteks, sebagaimana dijelaskan Abaa Buthayn).
Jangan pula jadi Utsman bin Manshur yang tidak setuju pengkafiran atas ubbadul qubur. Walaupun dia punya Syarah Kitab Tauhid, itu tidak mencegah para Ulama Najd dalam menjadikannya sebagai musuh dakwah.
Baik ibnu Fairuz, ibnu Jirjis atau Utsman bin Manshur, mereka itu punya satu karakteristik yang seragam: Lebih keras bantahannya kepada orang-orang yang mengkafirkan pelaku kesyirikan, dibandingkan bantahan mereka kepada pelaku kesyirikan itu sendiri.
Yang pelaku kesyirikan: Dibaik-baikin. Dikasih udzur. Dibela.
Yang mengkafirkan pelaku kesyirikan: Disikat habis. Dihancurkan dakwahnya. Di-khawarij2-kan. Di-anjing2-in.
Tak heran kalau Abaa Buthayn menyebut mereka dengan "Mujadil 'anil Musyrikin", yaa bahasa Indonesianya, "Pembela-nya Musyrikin".
FP Ngaji Tauhid