Orang yang tidak mengkâfirkan pelaku syirk akbar dan tetap dikatakan Muslim, apakah ini kelompok murji'ah? Dan Ana pernah bertanya mengenai Ustâdz mereka, ikhwah mengatakan: "Ustâdz sakit Manhaj."
Jawaban:
Tanpa ada keraguan lagi bahwa orang yang tidak mengkâfirkan pelaku syirk akbar termasuk dari kelompok murji'ah, Syaikh Al-Albânî mengakui ini, dia berkata:
المرجئة قد يلتقون معنا في عدم التكفير إلا بالجَحد
"Murji'ah sejalan bersama kita tentang tidak mengkâfirkan kecuali kalau mengingkari."
Maka jangan heran kalau Syaikh Al-Albânî tidak mengkâfirkan orang-orang yang meninggalkan Tauhîd karena alasan tidak mengingkari kewâjiban Tauhîd, dia tidak mengkâfirkan penyembah kubur karena itu di antara alasannya.
Dan itu di antara dari sekian alasan kelompok murji'ah, mereka tidak mengkâfirkan orang-orang yang meninggalkan Tauhîd, meskipun nyata melakukan syirk akbar berupa menyembah kuburan.
Dan di zaman ini berbagai alasan yang dimunculkan oleh orang-orang yang se'aqîdah dengan Syaikh Al-Albânî, di antara alasan yang paling tersohor adalah al-'udzr bil jahli (memberi udzur karena bodoh) pada orang yang melakukan kesyirikan. Mereka menjadikan Syaikh Al-Albânî sebagai panutan dan Salaf mereka dalam perkara besar ini. Nampak mereka satu 'aqîdah dengan 'aqîdah Syaikh Al-Albânî dan mereka menamai diri mereka Salafiyyûn, namun tetap saja mereka berselisih pada perkara yang mereka namai perkara manhaj. Sebagaimana di Indonesia ini, di antaranya ada kelompok salafî RII yang memakai nama Salafiyyûn, yang pemeran utamanya Al-Ustâdz Luqmân Bâ'abduh. Pernah pria yang satu ini di saat-saat puncak ketenarannya, ketika itu menyampaikan daurah tentang masalah teroris lalu ditanya bagaimana dengan pelaku kesyirikan yang mati karena terkena bom yang diledakkan oleh teroris, apakah dia diikutkan juga termasuk dari sebaik-sebaik yang terbunuh di bawah kolong langit? Pria inipun mengiyakan dengan penuh percaya diri, karena dia menganggap bahwa orang seperti itu tergantung pada kehendak Allâh, jika Allâh berkehendak untuk mengazabnya maka akan mengazabnya, jika tidak maka tidak. Ini sama dengan yang diyakini oleh Syaikh Salafiyyîn Tsâbitîn Abû Fairûz, yang penuh percaya diri menta'wil ayat sesuai pahamnya, bahwa pelaku syirik hanyalah batal amalannya dan tidak langsung kâfir. Dia menggambarkan pelaku syirik ancamannya sama seperti pelaku dosa besar, bisa Allâh laksanakan ancamannya dan bisa tidak. Hampir sama ta'wîlannya dengan Syaikh Salafî RII Luqmân Bâ'abduh, yaitu tergantung pada kehendak Allâh, jika Allâh berkehendak mengazab maka akan azab, jika tidak maka tidak.
Terlihat jelas kesamaan 'aqîdah mereka, karena memang mereka satu aliran dalam perkara 'aqîdah. Yang menjadi perselisihan dan perbedaan di antara mereka adalah perkara yang mereka namai perkara manhaj, Syaikh Salafiyyîn Tsâbitîn menamai Salafî RII sebagai Hizbiyyîn karena penyelisihan pada perkara yang mereka namai perkara manhaj, dan Syaikh Salafî RII menamai Salafiyyûn Tsâbitûn sebagai Hizbiyyîn juga karena masalah itu. Nampak terang keadaan masing-masing mereka seperti yang Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ katakan:
فَتَقَطَّعُوٓا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
"Lalu mereka terpecah belah pada urusan mereka menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok bangga dengan apa yang ada pada mereka masing-masing." (Surat Al-Mu'minûn: 53).
Siapa yang tidak menghizbikan orang yang mereka hizbîkan, terlebih lagi kalau membelanya meskipun masih satu 'aqîdah dengan mereka yaitu semisal 'aqîdah Syaikh Al-Albânî maka dia tidak akan terbebas dari mendapatkan vonis marîdh, mumayyi', hizbî atau mubtadi', dan itu sudah menjadi yel-yel mereka dalam satu jaringan. Jangankan Asy-Syaikh Rabî' Al-Madkhâlî yang memang satu 'aqîdah dengan Syaikh Al-Albânî, yang mereka beri vonis semacam itu, di antara ulamâ besar Saudi Arabiapun tidak lepas dari vonis mereka, dikatakan mumayyi' (lembek), laisa 'alal jâddah (tidak di atas kelurusan), dan vonis lainnya dengan berbagai macam alasan, karena berkawan dengan hizbiyyîn, satu majlis dengan hizbiyyîn,memuji hizbiyyîn, membela hizbiyyîn dan atau karena mencela salah seorang syaikh yang mereka jadikan panutan.
Dengan alasan semacam itulah yang menjadikan sesama mereka saling lempar melempar, saling tantang menantang sampai di antara mereka saling ancam mengancam dengan mubâhalah, Wallâhul Musta'ân.
(Muhammad Al-Khidhir).
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7548
⛵️ https://alkhidhir.com/aqidah/murjiah-berjubah-salafiyyah/